Kelicikan Media Massa

Media Massa sebagai pengendali massa
Media massa adalah diversifikasi teknologi media yang dimaksudkan untuk menjangkau khalayak yang besar dengan komunikasi massa. Broadcast Media (juga dikenal sebagai media elektronik) mengirimkan informasi elektronik dan mereka terdiri dari televisi, radio, film, film, CD, DVD, dan perangkat lain seperti kamera dan konsol video. Atau, media cetak menggunakan benda fisik sebagai sarana pengiriman informasi mereka, seperti surat kabar, majalah, komik, buku, brosur, buletin, leaflet, dan pamflet.  
Organisasi-organisasi yang mengendalikan teknologi ini, seperti stasiun televisi atau perusahaan penerbitan, juga dikenal sebagai media massa.  
Begitu juga dengan internet, media internet mampu mencapai massa yang statusnya adalah media ada dalam dirinya sendiri, karena ke layanan banyak media massa yang menyediakan, seperti email, website, blogging, internet dan televisi. Untuk alasan ini, media massa banyak outlet memiliki kehadiran di web, oleh hal-hal seperti memiliki iklan TV yang memiliki pranala ke situs web, atau memiliki game di situs mereka untuk menarik perhatian gamer untuk mengunjungi situs web mereka.  


'Spread the message'

Dengan cara ini, mereka dapat memanfaatkan akses mudah bahwa Internet memiliki, dan penjangkauan bahwa Internet affords, sebagai informasi dengan mudah dapat disiarkan ke berbagai daerah banyak negara di dunia secara bersamaan dan biaya-efisien. Media luar ruang merupakan bentuk media massa yang terdiri dari billboard, tanda-tanda, plakat ditempatkan di dalam dan di luar bangunan komersial dan benda-benda seperti toko-toko dan bus, billboard pesawat, balon udara, dan skywriting. Berbicara di depan umum dan acara pengorganisasian juga dapat dianggap sebagai bentuk media massa.

Brainwash
Sejak 50-an, ketika bioskop, radio dan TV mulai menjadi primer atau satu-satunya sumber informasi untuk persentase yang lebih besar dan lebih besar dari populasi, media ini mulai dianggap sebagai instrumen pusat kontrol massa. sampai titik yang muncul gagasan bahwa ketika sebuah negara telah mencapai tingkat tinggi industrialisasi, negara itu sendiri "milik orang yang mengendalikan komunikasi."

Media massa memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang berbagai isu penting, baik melalui informasi yang disalurkan melalui mereka, dan melalui interpretasi mereka menempatkan pada informasi iniMereka juga memainkan peran besar dalam membentuk budaya modern , dengan memilih dan menggambarkan satu set tertentu keyakinan, nilai-nilai, dan tradisi (cara seluruh hidup), sebagai realitas.  
Media massa serta propaganda cenderung untuk memperkuat atau memperkenalkan stereotip untuk masyarakat umum.
Artinya dengan menyebarkan berita berita tertentu sesuai dengan keinginan pemilik media maka mereka akan mendapat dukungan publik yang sudah terhipnotis oleh keindahan media yang telah mereka rekayasa, disinilah fitnah dan kebenaran sudah susah untuk di bedakan.
Contoh terbesar saat ini adalah 'war on terorism' yang sangat booming dan berhasil membuat massa terhipnotis dan kemakan oleh hasutan akan sebuah gambaran bahwa Islam adalah teroris, padahal dunia tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa pembuat senjata pemusnah massal terbesar adalah amerika dan amerika juga menyandang status sebagai negara agresor teraktif di dunia walau dengan alasan yang tak jelas, dan sekali lagi media massa berhasil menyematkan label 'polisi dunia' kepada amerika walaupun korban dari masarakat sipil yang di bantai oleh amerika ratusan kali lipat dari pada korban yang jatuh akibat kasus 'teroris'.

14 abad yang lalu nabi sudah memperingatkan akan kedustaan alias fitnah dajjal :

“Maukah aku ceritakan berita tentang Dajjaal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjaal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Apa yang dikatakan surga adalah neraka.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dajjaal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang beriman menjadi sesat dan kafir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjaal yang sebenarnya, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjaal. 
Oleh karena itu umat Islam juga harus mewaspadainya. Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat berbahaya karena datang pada setiap tempat dan waktu. Sedangkan Dajjaal akan datang hanya menjelang hari kiamat. Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjaal tingkat bahayanya lebih kuat dari Dajjaal yang sebenarnya. Namun keduanya adalah fitnah yang harus diwaspadai oleh setiap muslim.

Para pemimpin di sepanjang masa selalu ada yang menjadi musuh para nabi dan para dai yang mengajarkan kebenaran. Dari mulai Raja Namrud, Fira’aun, dan Abu Jahal, sampai pemimipin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang membantai dan menghancurkan negeri muslim, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang menimbulkan fitnah, menebar kesesatan, dan membuat kerusakan di dunia.

Fitnah Dajjaal, baik yang sebenarnya maupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjaal, adalah bahaya laten yang harus dihadapai umat Islam. Fitnah Dajjaal membuat umat Islam menjadi resat dan kafir. Dan umat Islam dapat saling bunuh karena fitnah Dajjaal tersebut. Dajjaal memutarbalikan fakta, sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram. Fitnah tersebut didukung dengan dana, media masa, dan oknum-oknum yang memang telah sesat. Lebih dahsyat lagi Dajjaal didukung lembaga internasional dan negara-negara adidaya.

Fitnah yang paling bahaya dari Dajjaal adalah yang keluar dari mulutnya. Dan fitnah ini didukung media masa dan disebarkan keseluruh penduduk dunia. Masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka. Dajjaal –baik yang sebenarnya atau yang mirip-mirip– senantiasa mengucapkan kata-kata yang membuat manusia sesat dari agama Allah. Dajjaal senantiasa memproduk ungkapan sesat, batil, dan kontroversial. 

Sehingga kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas, sedangkan kebatilan seolah-olah indah dan menarik. Kebenaran selalu ditutup-tutupi dan dibungkus dengan dusta. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak manusiawi, sedangkan nilai-nilai sekular dianggap baik, adil, dan paling cocok untuk kehidupan di era modern. Nilai-nilai agama dijauhkan dan direduksi dari kehidupan sosial dan kenegaraan. Bid’ah dianggap sunnah dan sunnah dianggap bid’ah. Umat Islam dicap fundamentalis, ekstrem, dan teroris; sedangkan non-muslim dianggap humanis, baik, dan demokratis.